Sabtu, 31 Maret 2012

Cerita Terjemahan Dari 50 Seri Kisah Teladan, Fabel

KISAH SANG PEMBAWA SAMPAH Ketika hari masih sangat pagi sekali, terlihat seekor singa telah berjalan dengan begitu gagahnya keluar untuk mencari makanan yang akan ia suguhkan buat anggota keluarganya yang lain. Ketika hewan-hewan yang lain mellihatnya, semuanya lari terbirit-birit karena ketakutan bahkan ada yang bersembunyi dibalik pohon-pohon. Dengan menggigil karena takut seekor kera berkata: “Sungguh kuat sekali singa ini, aku sangat takut sekali kepadanya!”. Seekor rusa betina yang lain berkata: “Ketika aku melihatnya, aku pun merasa sangat takut. Dia bisa saja menerkamku dan melumatku dalam waktu secepat kilat”. Kemudian seekor Zebra menimpali: “apalagi kami, zebra adalah makanan kesukaan yang sangat disenangi oleh singa. Sudah sangat banyak sekali anggota keluargaku dan kaumku yang sudah masuk kedalam perut singa ini”. Kemudian zebra itu menghentikan kata-katanya dan menangis. Ia teringat dengan seekor zebra yang juga temannya telah dimangsa oleh singa ini. Seekor jerapah lalu berkata: “singa ini selalu pulang kerumahnya membawa binatang buruan yang sangat banyak yang kemudian mereka makan sekeluarga bersama istri dan anak-anaknya. Mereka terlihat bahagia dengan itu semua”. Setelah semuanya selesai berbicara, berkata seekor musang: “singa ini memang benar-benar kuat saudaraku dan kalian semua pasti takut kepadanya”. “Ya, aku tahu semua kita takut untuk dijadikan makanan lezat singa ini”. “Tetapi aku bisa menyuruhnya membawakan sampah yang ada dirumahku”. Mendengar perkataan sang musang, hewan-hewan yang lain tertawa terbahak-bahak. Kera kemudian berkata: “bukannya maksudmu engkaulah yang akan bertugas untuk mengangkut dan membuang sampahnya sebagai upah agar ia tidak memangsamu?”. Kemudian dengan suara lantang dan menggema sehingga terdengar oleh seluruh hewan dihutan tersebut ia berucap: “Tidak, saya akan membuatnya mau membawakan sampah dirumah saya. Dan akan kuperlihatkan kepada kalian semua singa ini akan berjalan dibelakangku sambil membawa sampah-sampah yang ada didalam rumahku. Tapi beri aku waktu untuk mewujudkan itu semua”. Hewan-hewan yang lain menjawab: “tentu saja sangat tidak merugkan kami hanya sekedar menunggu waktu. Oke, perlihatkanlah nanti apa yang akan engkau lakukan wahai musang”. Ditengah jalan yang biasa dilewati oleh sang singa sehabis berburu seharian menuju kerumahnya membawa hasil buruannya, musang tadi menyapanya dengan suara yang sangat rendah: “Tuan singa yang sangat kuat, setiap hari aku memperhatikanmu berangkat pagi-pagi sekali untuk berburu mangsa dan pulang dalam kondisi yang sangat capek ditengah teriknya matahari memikul hewan buruanmu”. Singa memandang kearah musang dengan penuh kemarahan yang terlihat dikedua matanya. Kemudian ia berkata: “Lalu apa urusan kamu?”. Sebelum singa tersebut bertambah maraj, lalu musang berkata: “aku termasuk salah seorang yang sangat mengagumimu wahai singa”. Seketika kemarahan singa mulai reda kembali lalu berkata: “terimakasih musang. Yang penting apa yang kamu inginkan sekarang wahai musang, aku lelah sekali dan ingin cepat pulang untuk istirahat”. “Aku tidak menginginkan apa-apa. Hanya saja aku ingin melakukan sesuatu sebagai ungkapan pujian untukmu wahai singa”. “Lalu apa yang ingin kau lakukan?”. “Begini, aku hanya ingin engkau istirahat dan santai-santai saja dirumah. Tunggu saja dirumahmu, akan ada yang mengantarkan makanan setiap hari yang dapat mencukupi buatmu sekeluarga. Engkau pun dapat menghemat tenaga dan kekuatanmu. Raja seperti dirimu sudah seharusnya memiliki pembantu yang mengurusi semua kebutuhanmu dan tidak merepotkan dirinya sendiri berburu untuk mencari makanan pergi sejak pagi hari, berlari kesana kemari ditengah hutan”. Ternyata kata-kata yang diungkapkan sang musang telah merasuki fikiran singa, lalu ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Lalu kapan engkau mulai mengantarkan makanan yang lezat itu kepadaku wahai musang?”. “Mulai besok pagi akan datang makanan untukmu wahai tuanku”. Kemudian singa pulang kerumahnya dengan fikiran tak menentu, lalu ia melemparkan begitu saja binatang buruannya tanpa melihat istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Ia membiarkan mereka makan, sementara ia duduk ditempat lain sambil berfikir. Istrinya kemudian datang dan bertanya kepadanya: “apa denganmu? Tidak biasanya sikapmu seperti ini”. “gak ada apa-apa kok, aku hanya merasa lelah dan bosan berburu terus. Sebenarnya tidak pantas bagi singa sekuat aku untuk capek-capek mencari hewan buruan untuk dimakan seperti sekarang ini”. “Lantas kita nanti mau makan apa?”. “Mulai besok, ada seekor musang yang akan datang mengantarkan makanan dan aku akan santai saja dirumah. Musang itu sangat menghormati aku”. “Akan tetapi kenapa musang itu mau melakukan semua itu agar kamu tidak capek-capek dan hanya istirahat saja dirumah?”. “Itulah yang namanya takjub. Engkau sendiri tidak tahu kedudukan suamimu ini”. “hmm…aku tidak yakin”. Akhirnya keesokan harinya musang mulai mengantarkan makanan berupa daging yang sangat segar yang ia curi dari rumah tetangganya si macan hampir selama satu minggu. Singa tersebut akhirnya pergi istirahat dan bangun sudah terlambat. Ketika ia membuka pintu, setumpukan daging sudah berada disana. Dengan penuh semangat daging itu diambilnya dan ia makan bersama seluruh anggota keluarganya. Ketika sang musang merasa singa itu sudah mulai dirasuki rasa malas untuk keluar rumah mencari buruan dan sangat tergantung dengan bawaan daging yang dibawanya setiap hari secara perlahan-lahan ia mulai memperlambat waktu mengantar daging tersebut kerumah sang singa. Hingga akhirnya, ia baru mengantarkan daging-daging tersebut setelah waktu zuhur. Istri singa kemudian berkata kepadanya: “musang sekarang sudah mulai datang terlambat untuk mengantarkan daging-daging makanan kita. Sementara anak-anak kita sudah merasakan lapar”. “Bisa jadi musang itu berhalangan. Diamlah! Sepertinya engkau tidak suka melihatku istirahat dirumah!”. “Akan tetapi siapa yang akan datang membawakan daging-daging tersebut sekarang?”. “Tidak penting bagiku, yang penting daging-daging lezat itu pasti akan datang”. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya musang muncul dengan terseok-seok memikul daging. Singa bertanya kepadanya mengapa ia terlambat. Ia dan anak-anaknya sudah sangat lapar sejak tadi pagi. Kemudian musang itu berteriak dihadapan sang singa: “setiap urusan apapun pasti ada kendalanya. Sekarang ambil daging ini, makanlah dan diam!”. Singa tersebut akhirnya menundukkan kepalanya dan mengambil daging tersebut dan masuk kedalam rumah sambil duduk ia makan bersama seluruh anggota keluarganya. Lalu singa itu berkataL: “Demi Allah, musang itu sudah rela capek untuk sekedar menyediakan makanan buat keluarga kita”. Istrinya memandang dengan perasaan terharu karena kesedihan yang meliputi hati sang suami. Nah, pada hari yang sudah direncanakan, akhirnya musang mengumumkan kepada seluruh penduduk hutan bahwa saatnya ia akan memperlihatkan kepada mereka bahwa ia bisa memerintahkan singa yang terkenal garang itu untuk berjalan dibelakangnya sambil memikul sampah-sampah yang terdapat didalam rumahnya. Musang pada hari itu sengaja datang terlambat mengantarkan daging ke rumah sang singa sehingga rasa lapar sudah begitu menghantui fikiran singa. Musang datang sambil membawa satu plastik yang berisi sampah. Ketika ia bertemu dengan singa, ia melempar plastik sampah tersebut sambil berkata: “Singa…ikuti aku sekarang supaya engkau dapatkan daging buat makananmu!”. Akhirnya singa tersebut mengambil plastik yang berisi sampah, memikulnya dan berjalan dibelakang musang. Seluruh penduduk hutan menyaksikan itu semua dan hampir mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seekor singa yang kelihatan kusut sambil menbawa plastik sampah berjalan dibelakang seekor musang yang berjalan tegap sambil mendongakkan kepalanya. Musang pun sengaja mengajak sang singa berjalan ditengah jalan yang diliputi terik matahari yang sangat panas yang jauh dari pepohonan sehingga seluruh hewan bisa melihatnya dengan jelas. Ditengah perjalanan, singa melihat bayangannya yang besar berjalan dibalakang seekor musang. Hatinya terasa sangat sedih. Sekarang dia baru sadar, bahwa kemalasannya selama ini telah merendahkan dirinya ketika ia hanya mengharapkan makanan yang selalu diantar oleh sang musang. Sesampainya dirumah, singa itu duduk sambil berfikir panjang. Lalu kemudian ia bangkit dan berkata kepada istrinya: “besok pagi-pagi aku akan berangkat berburu lagi untuk mencari makanan buat kita sebagaimana yang telah aku lakukan sebelumnya”. Paginya, singa berjalan dengan pasti untuk pergi berburu. Ketika hewan-hewan yang lain melihatnya, mereka lari bersembunyi dibalik pohon-pohon karena takut. Musang pun akhirnya ikut bersembunyi karena takut. Kera berkata kepada musang: “Aneh…sekali wahai musang, kemarin engkau berhasil membuat singa itu patuh berjalan dibelakangmu sambil membawa sampah, tapi sekarang justru engkau pun bersembunyi karena takut”. Musang menjawab: “Kemarin akulah yang memberinya makan, akan tetapi pada hari ini dia sudah mulai kembali beraksi sebagaimana hari-hari sebelumnya.

1 komentar: