Sabtu, 26 Maret 2011

Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah putra Sultan Hamengkubowono III. Beliau lahir di Yogyakarta tanggal 11 November 1785. Ketika kecil, Pangeran Diponegoro bernama Raden Mas Ontowiryo. Sejak kecil, beliau diasuh oleh neneknya, Ratu Ageng.
Pangeran Diponegoro pergi meninggalkan keraton ke Desa Tegalrejo. Hal ini beliau lakukan karena tidak suka campur tangan Belanda dalam hal pemerintahan di Yogyakarta. Belanda juga telah merusak kebudayaan keraton dan agama Islam, misalnya dengan meminum minuman keras.
Ketika berada di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro melihat langsung kesengsaraan rakyat akibat ulah Belanda. Beliau sangat marah ketika melihat di atas makam para leluhurnya, dipasangi patok-patok untuk membuat jalan dari Yogyakarta ke Magelang. Belanda melakukannya tanpa bermusyawarah dan minta izin kepada Pangeran Diponegoro. Lalu, Pangeran Diponegoro mencabut dan menancapkan tombak.
Akibatnya, Belanda menyerbu kediaman Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Akan tetapi, beliau dan pengikutnya telah pergi. Karena tidak berhasil, Belanda kemudian membakar kediaman Pangeran Diponegoro. Tindakan Belanda ini, akhirnya menyulut pecahnya Perang Diponegoro.
Rakyat, bangsawan, dan para alim ulama mendukung Perang Diponegoro. Semua bersatu padu membantu beliau mengusir Belanda dari Nusantara. Para pengikut Pangeran Diponegoro antara lain Kyai Maja, Pangeran Mangkubumi, dan Sentot Prawirodirjo.
Dalam Perang Diponegoro, pihak Belanda banyak menderita kerugian. Tentara Belanda dipimpin oleh Jenderal Van de Kock. Pangeran Diponegoro berperang dengan cara gerilya. Beliau mendirikan markas berpindah-pindah., seperti di Gua Selarong, Plered, Deksa, dan Pengasih.
Akan tetapi, dengan tipu daya, Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro. Beliau ditangkap di rumah Residen Kedu, Magelang, tanggal 28 Maret 1830 saat menghadiri perundingan damai. Selanjutnya, beliau diasingkan ke Manado. Lalu beliaudipindahkan ke Makassar hingga wafat tahun 1855.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar